Dunia Agile di Indonesia



By
Hugo Messer
14 November 16
0
comment

Dunia Agile di Indonesia

Belum lama ini saya pindah ke Bali untuk mengalami sesuatu yang baru dan menikmati kehidupan dalam satu tahun (Bukan sepenuhnya keputusan yang berorientasi bisnis). Untuk menyelami TI dan komunitas Agile. Saya telah berbicara dalam suatu konferensi di Jakarta minggu lalu. Konferensinya selenggarakan oleh Discussagile, sebuah grup penggemar Agile dari India. Meskipun konferensinya berakhir lebih mirip dengan lokakarya karena banyaknya orang. Itu adalah pengalaman yang positif.
Discuss Agile Jakarta Conference

Apa yang mengejutkan saya adalah tingkat pengetahuan scrum (topik utama dalam dua hari). Saket Bansal memulai konferensi dengan gaya yang mantap dalam penhelasan dari dasar-dasar scrum dan agile. Menjadi jelas seketika bahwa sebagian besar orang yang ada di ruangan ini mengerti dasar-dasar scrum. Pembicara-pembicara yang lain segera merubah presentasi-presentasi mereka. Pada kebanyakan konferensi Agile, saya berbicara di Eropa, ruangannya berisi praktisi Agile dan konsultan-konsultan. Semua memiliki tingkatan yang tinggi dalam ilmu pengetahuan dan pengalaman. Jadi sebagian pembicaraan di Jakarta diarahkan ke peserta yang ada dan kami harus beradaptasi.

Setelah Saket, saya mendapatkan kesempatan membagi ilmu mengenai penerapan agile dengan tim-tim yang didistribusi. Anda dapat melihat presentasi saya jika tertarik. Saya tidak akan mengulang semua pembicaraan, tetapi seorang pembicara yang menarik, teman lama saya, Evan Leybourn, berbicara tentang Agile di luar TI dan tentu saja tentang #noprojects. Agile dan scrum berkembang dari industry TI dan sekarang menyebar ke mana-mana, dari kepegawaian sampai keuangan sampai pada pemasaran. Untuk membuat evolusi ini menjadi mungkin, perusahaan membutuhkan pemimpin-pemimpin agile (atau orang dengan pola pikir agile karena istilah pemimpin terlalu tinggi untuk konteks ini).

Evan juga percaya bahwa kita harus berhenti berbicara ‘proyek’. Kami menciptakan produk dan nilai dan ini adalah proses yang tidak berujung, pada awal dan akhir. Dia mengorganisir sebuah konferensi di New York akhir tahun ini dengan topik yang sama.

Evan

Fleur van Unen membagikan pengalamannya mengenai penerapan scrum di sebuah muti-budaya, multi-lokasi dari Dutch Bank. Dia bekerja dari kantor Singapore dan membantu tim-timnya yang tersebar di Eropa dan Asia bergerak menuju scrum. Dia menghabiskan sebagian besar presentasinya pada grafik dasar yang menunjukkan ‘scrum’ dan melewatkan 60% dari lembar-lembar presentasinya.

Pada hari kedua, saya ingin membicarakan Sylvain Mahe dan Palo TI. Dia berbicara tentang apa itu apa yang diperlukan untuk menjadi seorang pembimbing agile. Yang menonjol bagi saya adalah peran dari tenggang rasa. Dia menggunakannya dalam peran sebagai pembimbing (dan dalam perannya sebagai pelatih/pembicara). Dimana sebagian besar orang dalam dunia bisnis dibawa oleh rasionalitas dan uang. Tampaknya dia memiliki pusat dari pemahaman, mendengar dan membantu orang dan organisasi-organisasi menjadi lebih ‘manusiawi’.

Sylvain Mahe

Pada hari kedua, Fleur dan saya melakukan lokakarya kecil scrum. Bagian dari itu adalah tantangan marshmallow. Kami menggunakan permainan ini untuk menunjukkan bagaimana organisasi mandiri berhasil dan seberapa dewasa tim-tim dibandingkan dengan CEO dan anak-anak (seperti dijelaskan dalam video ini). Saya selalu tertarik pada mengamati apa yang dilakukan orang, terutama dengan latar belakang budaya yang berbeda. Apa yang saya lihat adalah kekuatan organisasi mandiri sangat kuat di sini. Sebagai tim-tim cenderung memiliki ‘kesamaan’ di sini. Anda tidak melihat ‘bos’ berdiri (yang saya lihat benar-benar terjadi di Eropa). Mereka tidak menghabiskan 8 menit pada perencanaan tetapi langsung saja membangun dan meningkatkan melalui percobaan dan kesalahan.

#Mashmellow challenge; a good way to measure how self-organisation works and mature your team is!CLICK TO TWEET

Mashmellow challenge

Saya membahas tahapan Agile dengan banyak orang selama dua hari tersebut. Kesimpulan saya adalah ada peluang yang sangat besar untuk menyebarkan pengetahuan dari tentang scrum dan agile di Indonesia. Negara ini membutuhkan pelopor-pelopor untuk mengembangkan kesadaran dan membantu perusahaan-perusahaan berubah ke cara-cara agile dalam bekerja. Itu juga membawa tantangan utama: karena tingkat adaptasi dan kesadaran masih rendah, sedikit pendapatan sekarang (ini akan berubah dalam 1-2 tahun). Orang yang tidak siap untuk membayar pelatihan scrumseperti yang kitabayarkan di Negara-negara Barat ataubahkan di India.Dan perusahan-perusahanjugatidakmempunyaianggaranuntukmenyewakonsultan-konsultanmahaluntukpekerjaan-pekerjaansemacamini (kecuali bank-bank besardan multi nasional).Sejauhinisayapernahmendengarhanyasatupelatih (Joshua) di seluruhpelosoksebagaisatu-satunya yang muncul di mana-mana.

Beberapa hari yang lalu saya keluar untuk minum dengan beberapa orang yang bekerja pada tim pengembangan di Bali. Gambaran yang sama mengkonfirmasi: tingkatan pengadopsian scrum/agile masih rendah. Namun, mereka menggunakan scrum dan berhasil melakukannya selama 10 sprint sekarang. Mereka belajar scrum secara online dan setiap kali mereka menghadapi sebuah tantangan, mereka mencari solusi online. Kami membahas beberapa tantangan yang mereka hadapi. Banyak yang harus dikerjakan dengan tingkatan pengetahuan scrum di perusahaan secara menyeluruh. Jika beberapa orang mendukung dan beberapa ragu-ragu atau menentang, hal itu menjadi tantangan dalam melaksanakan scrum. Dan jika beberapa orang masih bekerja di bawah perintah dan pola pikir kontrol atau mereka merasa ‘pimpinan-pimpinan proyek’ dan hal-hal harus ‘direncanakan’ dengan ‘tenggat waktu’, itu adalah tugas yang menakutkan. Saya sampai kepada kesimpulan bahwa kita harus membuat pelatihan scrum dan pengetahuan lebih baik tersedia di Bali dan Indonesia. Siapapun yang siap untuk membantu atau mencari pengetahuan, kirimkan email ke saya hugo@ekipa.co!